Ujian SIM

Ini tips buat teman-teman yang mau membuat SIM. Dijamin murah pokoknya.

SBMPTN

Jangan galau! Masih ada SBMPTN. Meskipun seleksinya dengan menggunakan ujian tulis, aku yakin teman-teman pasti bisa.

Masa SMA

Kalau anak-anak muda bilang, inilah masa yang paling indah.

Saturday, 14 February 2015

Selamat Datang di SMP

Bisa masuk di SMP yang diimpikan memang sesuatu sekali. Bersyukurlah dan tepati janjimu ketika sudah masuk SMP (karena biasanya banyak yang nadzar). Jangan malas seperti waktu SD. Karena di SMP tidak pelajaran dapat dikerjakan tanpa belajar. (Ada yang kontra ya? Pasti waktu SMP dulu temen termasuk anak yang kurang pandai). Tidak percaya?

Dulu ketika awal pelajaran di SMP saya sangat enjoy. Saya bisa mengerjakan semua materi yang basicnya sudah ada di SD. Nilainya pun sangat memuaskan. Sampai suatu ketika saya bertemu dengan Aljabar dan Fisika. Gila, pelajaran apa itu? Sampai-sampai saya bertanya kepada teman.

"Ajabar itu apa ya?"

"Oh, aljabar itu kaya matematika, tapi sedikit sulit."

"Terus fisika?"

"Kata ortu ku fisika itu hampir sama kaya aljabar cuma fisika itu kaya penerapannya."

"Aljabar? Seperti matematika? Saya kan jago matematika." (pikirku)
 
Sampai suatu hari ketika pelajaran aljabar pertama pun dimulai. Sumpah, gua gak bisa! Susah amat ini pelajaran. Masa x+2y = 8? 8 itu kan 1+7 atau 2+6 atau 8x1 atau 16:2 atau 1872:234. Nyesel tadi malam gak belajar. 2 jam pelajaran berlalu dengan hasil yang lumayan bikin kepala migren, fisika pun datang. Pada awal pelajaran, saya senang dibohongi teman karena fisika sama sekali tidak ada aljabarnya.

Sampai 2 hari berikutnya ketika bertemu dengan Q = mcΔt, kepala saya benar-benar telah mengeluarkan kalor. (berarti massa otak dikali koef. otak dikali perubahan suhu kepala).

"Makanya belajar!"

Sekian. Salam dari ANAK SEKOLAHAN.

Wednesday, 11 February 2015

Menghadapi UASBN

Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional. Namanya sedikit keren karena ada embel-embel "Berstandar Nasional". Meskipun begitu ujian ini tidak jauh berbeda dengan UAS, EBTANAS, bahkan ulangan harian yang biasanya diberikan oleh bapak/ibu guru.

Tidak percaya? Jika teman-teman bisa mengerjakan ulangan harian biasa pasti percaya, termasuk saya. Contoh,

Ulangan biasa

Ani, Beni, dan Rudi diberi kelereng sebanyak 24 buah. Kemudian kelereng tersebut dibagi dengan perbandingan Ani, Beni, dan Rudi adalah 1:2:3. Berapakah kelereng yang akan diterima Ani, Beni, dan Rudi? (Gampangkan?)

UASBN

Ani, Beni, dan Rudi diberi kelereng sebanyak 24 buah. Kemudian kelereng tersebut dibagi dengan perbandingan Ani, Beni, dan Rudi adalah 3:1:2. Berapakah kelereng yang akan diterima Rudi?

a. 4 kelereng
b. 6 kelereng
c. 8 kelereng
d. 12 kelereng

Masih tidak percaya? Tanya saja kepada anak kelas VII yang baru kemarin bisa mengerjakan UASBN. Pasti jawabannya sama dengan saya.

Bagaimana? Bagi teman-teman yang dahulu pernah kesulitan mengerjakan UASBN, mengapa tidak belajar dari dari awal? Kan pasti akan susah kalau menghadapi UAS lagi. (sundul postingan sebelumnya) Betul tidak?

Sekian. Salam dari ANAK SEKOLAHAN.

Awas! Peringkat 1

Sungguh senang rasanya ketika kita mendapatkan peringkat pertama di kelas. Semua orang senang kecuali yang memang tidak senang. 

Tapi ingat! Mendapatkan peringkat pertama itu sama seperti saat kita sudah berada di puncak pohon kelapa untuk mengambil buahnya. Sehingga pada akhirnya kita akan dihadapkan dengan dua pilihan.

Tetap di atas

Dengan banyak buah kelapa yang menyegarkan dan tidak membaginya dengan orang yang sedang menunggu di bawah.

Turun 

Dengan membagi rata kelapa-kelapa yang sudah didapatkan tadi meskipun 1 buah tidak cukup untuk menyegarkan badan sendiri.

Dan ketika sudah memilih, jangan pernah menyesesali konsekuensi yang akan diterima. Tetap di atas dan turun itu seperti halnya orang yang sudah puas dan tidak puas. Kalau sudah puas, pasti dia akan turun dan pasti akan dihajar oleh orang yang sedang menunggunya dibawah karena tidak diberi kelapa. Kalau tidak puas pasti dia akan naik dan memanjat pohon yang lain meskipun pohon yang akan didakinya lebih tinggi dari pohon yang sebelumnya. Mengapa demikian? Karena orang yang sudah diberi kelapa pasti akan membantunya.

Pertanyaannya adalah mengapa di postingan ini saya beri label sekolah dasar? Ini karena awal dari kegagalan seseorang dimulai saat dia mendapatkan peringkat pertama di sekolah dasar dan salah memilih ketika dihadapkan dengan dua buah kelapa tadi.

Anak SD cepat puas. Dia bisa mendapatkan peringkat pertama dengan tidak belajar sehingga pasti akan mengulangi hal yang sama, yaitu tidak belajar. Dan hal itu pasti berlanjut ketika dia SMP, atau SMA.

Kenapa saya tahu betul mengenai hal tersebut? Karena saya mengalaminya.

Sekian. Salam dari ANAK SEKOLAHAN.

Tuesday, 10 February 2015

Masuk 3 Besar

Ini adalah lanjutan dari cerita singkat sebelumnya sebelum cerita singkat yang selanjutnya. Apakah itu? Top 3 adalah prestasi yang sangat diimpikan oleh setiap anak sekolah. Kenapa tidak. Setelah mendapatkan predikat top 3 maka anak akan,

1. Dipuji orang tua

2. Dipuji tetangga

3. Punya orang tua yang dipuji tetangga

4. Ditambahkan uang jajannya (tapi tidak berlaku untukku)

Tetapi di balik kebahagiaan itu, ternyata untuk menyandang predikat top 3 tidaklah mudah. Akan ada godaan dan ejekan orang orang munafik yang menghampiri.

"Bro, kamu dapat peringkat berapa?"

"Aku 3, kamu?"

"Kalau aku sih 11. Bro peringkat itu ternyata tidak penting, yang penting itu kita naik kelas terus."

"Ya."

Bagaimana menurut teman-teman? Apakah dulu pernah mengalami hal serupa?

Selanjutnya, bagaimanakah sikapku? Aku hanya berpikir, 

"Kasihan anak itu. Pasti dia sangat sedih sampai-sampai menghibur dirinya sendiri dengan mengatakan hal itu kepadaku."

Nah, bagi teman-teman yang sedang menyandang gelar top 3, ANAK SEKOLAHAN punya sedikit nasihat. Jangan mudah puas dengan apa yang telah kau capai. Syukurilah sifat manusia yang tidak pernah puas ketika mendapatkan sesuatu. Tetapi harus yang positif. 

Selanjutnya biar tidak salah kaprah menanggapi, sifat puas akan saya ceritakan di postingan selanjutnya.

Sekian. Salam dari ANAK SEKOLAHAN.

2 Tahun di Taman Kanak-kanak

Teman-teman tahu rasanya berada di Taman Kanan-kanak selama 2 tahun?  Rasanya itu seperti tidak naik kelas. Sedih sekali. Merasa paling bodoh. Merasa paling cemen. Merasa takut kalau ngompol di celana lagi. Padahal pikirku aku sudah cukup pintar, cerdas, berani, dan siap untuk mengenakan seragam putih merah. Tapi kenapa?

Pertanyaan kenapa pun selalu terngiang dalam pikiranku selama libur panjang. Bahkan menjadi sangat jengkel ketika,

"Nak, kamu sekarang kelas 1 ya?"

"Tidak pak, saya masih TK."

"O, berarti kamu tidak naik kelas ya? Makanya belajar yang rajin, ya."

"Arrgh. Kalau badanku gedhe, udah ku buat babak belur tu bapak-bapak!" (pikirku)

Tetapi apa daya, nunggu 15 tahun lagi baru badanku udah gedhe.

Sedih di pagi hari pun menjadi sarapanku selama libur panjang hingga hari pertama masuk TK. Di hari pertama, aku serasa seperti anak TK berbadan besar yang tidak berotak. Bagaimana tidak? Teman-teman satu kelasku badannya kecil-kecil semua.

Tetapi perasaan sedih itu pun hilang ketika aku akan lulus dari TK. Bahkan aku pun merasa bersyukur bisa 2 tahun belajar di Taman Kanak-kanak. Mengapa demikian.

1. Aku mengetahui bahwa diriku belum siap secara fisik untuk masuk SD. Berarti kalau masalah otak tentu jangan ditanya!

2. Aku melihat anak yang dulu satu TK denganku tetapi tidak naik kelas sehingga membuatku berpikir bahwa tidak ada gunanya punya badan sebesar gajah jika otaknya hanya sebesar biji wijen.

3. Aku yang sekarang lebih baik dari sebelumnya.

Sekian. Salam dari ANAK SEKOLAHAN